Friday, April 22, 2005

Produk Pertanian Alternatif

Harian Bisnis Indonesia
Selasa 29 Maret 2005, Hal.T3, Kolom “Peluang Bisnis”
Martin Sihombing
Redaktur Harian Bisnis Indonesia

Produk Olahan Pertanian, Usaha Alternatif

Alam Indonesia memiliki potensi besar untuk dijadikan modal usaha di sektor pertanian. Memang, itu bukan lagi berita besar. Semua orang makfum. Buktinya, Koes Plus pun mampu mengangkat kondisi alam itu kedalam lagu bertajuk Kolam Susu.

Namun, masih belum banyak orang yang mau menjadikan sektor pertanian sebagai lahan untuk berusaha. Kalaupun ada, pola pengelolaannya dilakukan apa adanya. Karena itu, masih banyak orang yang menjadikan pertanian sekadar untuk memenuhi kebutuhan hidup yang apa adanya.
Artinya, tidak banyak orang yang mampu menyulap potensi alam itu menjadi gepokan uang. Padahal, jika hal itu mau dilakukan, bukan sesuatu hal yang mustahil. Di antara yang sedikit itu, mungkin salah satunya Ikhsan Setianto, pria kelahiran 7 Oktober 1973 di Jakarta.
Kendati belum pantas untuk dikatakan sudah sangat menikmati hasil dari memanfaatkan alam Indonesia, Ikhsan mulai mengakui bahwa sektor pertanian mampu memberikan kehidupan yang layak. Dia berhasil menyulap lahan atau perkebunan salak milik mertuanya menjadi mesin uang bagi diri dan sejumlah karyawannya.
Pria jebolan Fakultas Teknologi Pertanian jurusan Teknologi Industri Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) ini mampu memanfaatkan buah salak, nangka, nanas dan apel menjadi produk yang bernilai tambah, bagi dirinya dan bagi komoditas itu sendiri.
Usaha yang dilakukan setelah dirinya menjadi korban pemutusan hubungan kerja alias PHK di satu perusahaan distribusi, awalnya sebagai upaya untuk memberikan dan meningkatkan nilai tambah produk pertanian khususnya buah-buahan. Pasalnya, selama ini buah-buahan umumnya dikonsumsi secara segar.
Tapi, permasalahan yang timbul pada saat panen raya, produksinya melimpah sehingga untuk menghindari kerugian akibat kerusakan, petani menjualnya dengan harga murah. Keadaan ini semakin membebani masyarakat petani yang umumnya masih tergolong kelas menengah ke bawah. Karena itu, untuk mengatasi panen raya, perlu dicari berbagai upaya untuk memperpanjang masa simpan buah.
Pengolahan buah segar menjadi keripik, sirup dan dodol salak pondoh merupakan cara-cara untuk mengatasi panen raya terutama untuk jenis salak pondoh hitam yang bentuk fisiknya tidak terlalu menarik.
Hal itu juga diakui Ikhsan. Menurut dia, kendala yang dihadapi oleh para petani adalah saat terjadinya panen raya dimana produksi buah segar melimpah dan harga produknya menjadi sangat murah.
Begitu melimpahnya produksi saat panen sehingga seringkali buah-buahan tersebut dibiarkan terbengkalai sampai membusuk karena harga jualnya tidak sebanding dengan biaya produksi yang sudah dikeluarkan oleh para petani.
Kasus itu mungkin pernah terungkap belum lama ini dimana buah salak membanjiri pasaran. Tapi harganya anjlok menjadi Rp 2.000/kg seperti yang terjadi di Pasar Karombasan, sementara Pasar Swalayan Jumbo dan Golden masih menjual dengan harga Rp 5.000/kg.
Anjloknya harga buah salak pondoh itu disebabkan oleh adanya panen besar sejak awal tahun. Harga di tingkat petani berkisar Rp 1.500/kg. Kendati masih ada kios-kios yang menjual dengan harga Rp 2.000/kg – Rp 2.500/kg.
Dalam upaya untuk memanfaatkan hasil produksi yang melimpah ini sehingga produk tersebut tidak mubazir (sia-sia) dan dapat dimanfaatkan secara optimal dalam berbagai bentuk diversifikasi produk pertanian, salah satunya adalah dalam bentuk keripik buah.
Dengan bendera CV. Nur Setia Abadi, Ikhsan menggunakan teknologi penggorengan vakum (vacuum frying) untuk membuat produk keripik buah dengan bentuk, rasa, warna dan aroma yang tidak berbeda dengan bentuk, rasa, warna dan aroma asli dari buah segar yang diolah. Produk yang diolah tanpa bahan pengawet dan tanpa zat pewarna ini menghasilkan keripik buah yang renyah, kaya serat, non kolesterol dan mempunyai daya simpan yang jauh lebih lama dibandingkan buah segar aslinya.
“Produk seperti itu masih mempunyai pasar yang baik”, kata Ikhsan. Orang selama ini lebih banyak menikmati dalam bentuk buah segar. Padahal orang Indonesia menyukai yang namanya kegiatan ngemil.
Tapi, karena potensi pasar itu selama ini belum digarap secara maksimal, akibatnya tidak banyak orang yang tahu bahwa di Indonesia pasar snack dengan bahan baku produk buah lokal seperti keripik salak pondoh sangat besar. Akibat lainnya, buah lokal pun tidak memiliki nilai tambah, dan keragaman snack dari buah lokal pun tidak bermunculan kendati potensi pasarnya cukup ada.
Kalaupun banyak, kata Ikhsan, penggarapan yang dilakukan tidak menjadikan produk olahan dari buah lokal memiliki tempat yang layak di tengah konsumen yang semakin keranjingan dengan snack impor. Kemasan yang dilakukan masih dalam bentuk apa adanya.
Sejauh ini upaya yang dilakukan, diakuinya memang belum sampai pada kategori mencengangkan orang. “ Kami baru memulainya empat bulan ini”, ujar dia. Namun, kini dia sudah mampu memiliki dua pabrik pengolahan buah di dua kabupaten, Malang dan Yogyakarta. Tepatnya di Desa Margodadi, Sleman, Yogyakarta untuk pengolahan keripik salak pondoh dan di wilayah Sengkaling Batu, Malang, Jawa Timur untuk pengolahan keripik nangka, nanas dan apel.
Keripik buah merupakan hasil olahan produk buah segar dalam bentuk makanan ringan (chip) yang diolah dengan teknologi penggoreng sistem hampa (vacuum fryer). Pembuatan keripik buah merupakan peluang usaha baru di bidang agroindustri pada skala rumah tangga, karena dapat meningkatkan nilai tambah.
Alat penggoreng hampa berbasis teknologi pompa jet air (water jet pump) mampu menurunkan titik didih minyak penggoreng sehingga di bawah 100 derajat Celcius, sehingga aspek mutu, rasa, aroma dan zat gizi keripik buah hasil penggorengan sistem hampa tidak berbeda nyata dengan buah segarnya namun dengan tekstur yang renyah dan kering. Keripik buah yang dikemas dan disimpan secara benar dan tepat, masa kadaluarsanya bisa mencapai 10 bulan hingga 1 tahun penyimpanan.


SETELAH DI PHK, IKHSAN SUKSES USAHA KERIPIK

Ikhsan Setianto, bos CV. Nur Setia Abadi, tidak pernah membayangkan bahwa pertanian mengantarkan dirinya menjadi salah seorang usahawan skala usaha kecil dan menengah. Pasalnya, jika tidak ada peristiwa pemutusan hubungan kerja alias PHK dari tempatnya bekerja, pria kelahiran 7 Oktober 1973 di Jakarta itu, tetap menjadi karyawan.
Jebolan Fakultas Teknologi Pertanian jurusan Teknologi Industri Pertanian UGM itu, kini mulai merasakan bahwa alam Indonesia yang berpotensi besar untuk modal usaha pertanian, ternyata benar.
Dengan mengolah berbagai produk pertanian seperti salak pondoh, nangka, nanas dan apel yang harganya kerap anjlok saat panen raya, Ikhsan mulai digelari “Raja Keripik”. Pasalnya, dengan latar belakang ilmu yang dipelajari di almamaternya itu, dia mengolah berbagai produk pertanian itu menjadi keripik.
“Yah, tapi kami baru memulainya empat bulan ini. Sekarang masih tahap memperkenalkan”, kata dia yang suami seorang guru SLTA.
Sebelum memulai usahanya dan sesudah kena PHK, Ikhsan mulai dengan melakukan pencarian informasi sekitar peluang usaha apa yang berpotensi besar untuk dijadikan usaha.
“Saya berdialog dengan sejumlah orang serta melakukan perjalanan ke berbagai tempat seperti ke Pasuruan”, ujar dia. Dari hasil pergulatannya dengan situasi yang digumulinya, dia akhirnya mengambil kesimpulan, bahwa memproduksi pangan dari produk pertanian yang diolah masih mempunyai prospek yang lumayan bagus.
“Apalagi, dari produk yang dihasilkan tidak dikemas dengan baik. Padahal jika dikemas dengan baik maka manfaat ekonominya bertambah”, ujar Ikhsan.
Dia pun melakukan pendekatan dengan pihak mertua untuk sekadar meminta ijin memanfaatkan lahan perkebunan salak milik mertuanya yang berada di Yogyakarta. Dengan memanfaatkan sisa uang pesangon yang mencapai Rp 30 juta, Ikhsan memulai usahanya.
“Kami memulainya dengan memproduksi kedalam kemasan kecil sekitar 50gram”, ungkap dia. Kemudian dia melakukan penawaran kerjasama ke berbagai outlet seperti tempat-tempat yang memang menjual oleh-oleh. “Kini permintaan mulai banyak, bahkan dari Lampung permintaan sudah mulai berdatangan”, tutur Ikhsan.
Dari usaha yang dimulai sejak akhir tahun lalu itu, kini dia sudah memiliki dua pabrik pengolahan kendati masih tergolong skala kecil. Satu di Desa Margodadi, Sleman, Yogyakarta dan di wilayah Sengkaling Batu, Malang, Jawa Timur. Sedangkan pengemasan produk perusahaan, yang didirikan dalam upaya untuk mengembangkan produk olahan dari buah segar sehingga dapat memberikan nilai tambah akan produk itu sendiri, dilakukan di Jakarta.
“Saya mempekerjakan 14 orang karyawan untuk memproduksi keripik itu”, ujar dia. Namun dia menolak mengatakan omzetnya saat ini. “Tapi usaha ini mempunyai prospek, sebab ini tergolong usaha baru yang punya pasar bagus tapi selama ini belum dikelola dengan baik”, tutur dia.
Kendati belum pantas untuk dikatakan sudah sangat menikmati hasil memanfaatkan alam Indonesia, Ikhsan mulai mengakui, sektor pertanian mampu memnberikan kehidupan yang menjanjikan. Pasalnya, dia bukan hanya berhasil menyulap lahan atau perkebunan salak milik mertuanya untuk mesin uang bagi dirinya tapi juga bagi sejumlah karyawannya.
Usaha yang menjadi sandaran hidupnya setelah dirinya menjadi korban pemutusan hubungan kerja alias PHK dan awalnya hanya akan dijadikan sebagai upaya memberikan dan meningkatkan nilai tambah produk pertanian khususnya buah-buahan, kini mulai menarik minat konsumennya. “Saya ingin menguasai pulau Jawa dulu, Mas. Belum berpikir untuk ke luar apalagi ekspor”.
Namun dia mengakui, upaya untuk membesarkan usahanya ini bukan hal yang ringan. Apalagi kini produk dari industri skala kecil seperti yang digelutinya ini belum begitu disenangi perbankan.

Jakarta, 21 April 2005
Ikhsan Setianto
Direktur CV. Nur Setia Abadi - Fruit Chips Manufacturer

“Fruit Chip, Your Alternate Choice Of Chip”

Saturday, April 02, 2005

Short Trace Back - Personal Profile

CURRICULUM VITAE

Nama : Ikhsan Setianto
Alamat : Komplek DKI Sunter Jaya I, Blok J/27 RT 013 RW 03, Tanjung Priok, Jakarta
Utara, 14350
Telepon : 021-6505891 ; 0813-14508844
Email : ichangasin@yahoo.com ; setiafood@yahoo.com
Lahir : Jakarta, 7 Oktober 1973
Agama : Islam
Status : Menikah


PENDIDIKAN FORMAL

1. 1992 – 1999 : Universitas Gadjah Mada – Yogyakarta, Fakultas Teknologi Pertanian,
Jurusan Teknologi Industri Pertanian, IPK 2.97 / 4.00
2. 1989 – 1992 : SMUN 41, Jakarta Pusat
3. 1986 – 1989 : SMPN 78, Jakarta Pusat
4. 1980 – 1986 : SDN Kebon Kosong, Jakarta Pusat


PENGALAMAN KERJA

November 2004 - Sekarang : CV. Nur Setia Abadi (Produsen Aneka Keripik Buah)
Direktur

April 2003 – November 2004 : PT. Wicaksana Overseas International Tbk. (Distributor
Nasional)
Procurement & Planning Executive – Logistic Dept.
· Deskripsi tugas:
o Menangani aktivitas procurement & planning untuk principal
o Mengontrol distribusi produk ke seluruh cabang/area
o Memonitor inventory level produk di seluruh cabang/area
· Principal yang ditangani:
o PT. Mead Johnson Indonesia (Susu Bubuk Instan)
o PT. Effem Indonesia (Makanan Hewan)
o PT. Simex Indonesia (Minuman Energi)
o PT. Synergy Marketing Indonesia (Garam)
o PT. Sariguna Primatirta (Air Mineral)
o PT. Naga Corigo Kencana (Pembersih)
o PT. Forinco Ancol (Sikat Gigi)
o PT. Nusa Palapa Gemilang (Obat Nyamuk Bakar)

April 2001 – April 2003 : PT. Wicaksana Overseas International Tbk. (Distributor Nasional)
Business Manager – Commercial Dept.
· Deskripsi tugas:
o Menangani bisnis principal di PT. WOI selaku distributor baik dalam skala nasional maupun
lokal
o Melakukan koordinasi dengan principal dalam segala hal untuk memajukan, meningkatkan
serta mengembangkan bisnis yang ada untuk produk yang didistribusikan oleh PT. WOI
o Mengembangkan aktivitas dan strategi marketing bersama-sama dengan principal untuk
mendistribusikan produk ke pasar
o Menangani aktivitas ordering & planning kepada principal
o Mengontrol distribusi produk ke seluruh cabang/area
o Memonitor inventory level produk di seluruh cabang/area
· Principal yang ditangani sebelumnya:
o PT. Effem Indonesia (Makanan Hewan)
Skala bisnis (jaringan distribusi) : Nasional
o PT. Tirta Investama/Aqua Golden Mississippi (Air Mineral)
Skala bisnis (jaringan distribusi) : Jabotabek, Jabar & Sumut
o PT Mead Jonhson Indonesia (Susu Bubuk Instan)
Skala bisnis (jaringan distribusi) : Jabar, Jatim & Sumatera
o Quaker Oats Asia Inc. (Sereal)
Skala bisnis (jaringan distribusi) : Nasional

Oktober 1999 – April 2001 : PT. Wicaksana Overseas International Tbk. (Distributor Nasional)
Export Supervisor – International Div. / Trading Dept.
· Deskripsi tugas:
o Menangani aktivitas ekspor untuk produk PT. WOI dan grup perusahaan kepada customer
regular di luar negeri
o Mengembangkan bisnis ekspor untuk produk-produk bermerek internasional maupun
produk-produk local juga produk grup perusahaan sendiri
o Mencari Customer baru di luar negeri untuk mengembangkan total bisnis PT. WOI
· Principal ditangani sebelumnya:
o PT. Jakarana Tama (Mi Instan)
o PT. Forinco Ancol (Sikat Gigi)
o PT. Pelinda Sarana Sukses (Peralatan Tulis)

Juni – Oktober 1999 : PT. Wicaksana Overseas International Tbk. (Distributor Nasional)
Management Trainee – International Div. / Trading Dept.
· Deskripsi tugas:
o Menangani aktivitas ekspor untuk produk PT. WOI dan grup perusahaan kepada customer
regular di luar negeri
o Mengembangkan bisnis ekspor untuk produk-produk bermerek internasional maupun
produk-produk local juga produk grup perusahaan sendiri
o Mencari Customer baru di luar negeri untuk mengembangkan total bisnis PT. WOI
· Principal ditangani sebelumnya:
o PT. Jakarana Tama (Mi Instan)
o PT. Forinco Ancol (Sikat Gigi)
o PT. Pelinda Sarana Sukses (Peralatan Tulis)