Thursday, February 09, 2006

Potensi Bisnis Keripik Buah Pasarnya Masih Terbuka Lebar

Tabloid Peluang Usaha
No.12 / Thn I / 06 – 19 Februari 2006
Sektor Agribisnis, Hal. 16 – 18
By Malik, Ekawati, Mutiara Dwi R.


Potensi Bisnis Keripik Buah Pasarnya Masih Terbuka Lebar

* Setelah Diubah Menjadi Keripik, Harganya Menjadi Fantastis

Indonesia memang kaya akan keanekaragaman hayati, termasuk buah-buahan. Lihatlah salak pondoh, salak bali, apel malang, dan masih banyak wilayah di pelosok Indonesia yang memiliki potensi sumber daya alam buah-buahan. Alangkah sayang, jika potensinya kemudian tidak tergarap. Apalagi pada waktu panen raya, petani kebingungan menjual hasil kebunnya karena harga jual buah anjlok, bahkan busuk di pohon karena tidak bisa terjual. Namun kini, selain bisa dijual dalam bentuk buah segar, dengan sedikit inovasi didukung oleh peralatan mesin yang cukup canggih, buah-buahan juga bisa diolah menjadi keripik yang cukup lezat dan nilai jualnya meningkat. Lalu seberapa besar peluang usaha ini?

Sebagai snack alternatif yang cukup sehat dan bergizi, produk ini juga cukup diminati di pasar ekspor karena merupakan produk pangan yang tidak mengandung bahan-bahan kimia. Baik kualitas, rasa dan aromanya hampir rata-rata sama dengan buah segarnya. Peningkatan harga jual produk olahan buah segar menjadi keripik juga cukup fantastis. Misalnya salak pondoh yang harganya hanya Rp 3.000 per kg, bila telah diolah menjadi keripik harganya bisa meningkat menjadi Rp 80.000 per kg. Begitu juga hal yang sama terjadi pada beberapa jenis buah lainnya seperti nangka segar yang harganya Rp 1.500 per kg, bila telah menjadi keripik bisa mencapai Rp 50.000 per kg.
Eksklusivitas produk berbahan dasar buah mengundang potensi untuk digali dan dikembangkan karena rata-rata keripik buah belum familiar bagi masyarakat sehingga bisa mengundang daya tarik orang untuk mencoba menikmati kelezatannya.
Potensi dari pasar ekspor juga ditunjukkan oleh tingginya respon para buyer di luar negeri seperti diakui Ikhsan Setianto, produsen keripik buah dari CV. Nur Setia Abadi yang pernah mendapat tawaran order banyak buyer di luar negeri. Namun ia mengalami kendala dari sisi persyaratan produk, termasuk kendala klasik modal yang terbatas untuk memenuhi order dari buyer yang biasanya memang dalam jumlah besar.

Menyikapi Kendala Usaha
Dalam pemasaran produk keripik buah, terutama dari sisi harganya yang terbilang cukup mahal bagi ukuran masyarakat kelas menengah ke bawah, menjadi semacam tantangan bagi produsen keripik buah untuk bisa lebih menekan biaya operasional terutama misalnya lewat penciptaan mesin penggorengan yang lebih murah namum kualitasnya tetap terjaga. Saat ini harga mesin penggorengan termurah di pasaran antara Rp 15 juta – Rp 30 juta-an.
Selain itu, karena belum familiar, maka pemasarannya juga terkendala. Bahkan perusahaan besar yang sudah mengembangkan produk keripik buah berskala industri pun tak mampu berbuat banyak dalam mempromosikan produk ini ke masyarakat luas.
Biaya produksi yang tinggi, dan alat produksi yang cukup mahal, pada akhirnya berpengaruh pula ke harga jual. Apalagi operasionalnya menggunakan bahan bakar gas dan listrik sehingga harga jual ke konsumen cukup tinggi. Bisa dipastikan kalangan market menengah ke bawah, belum tentu menjadi target market yang tepat bagi pemasaran keripik buah. Tetapi bisa jadi produk ini memang lebih tepat mengarah ke market menengah ke atas.
Karena itulah menembus pasar ke beberapa supermarket bisa jadi merupakan impian bagi beberapa produsen keripik buah. Seperti halnya yang telah dilakukan oleh pelaku usaha yang sudah mengelola usahanya berskala industri. Produk pelaku usaha berskala industri sudah merambah ke beberapa supermarket maupun airport. Dengan kapasitas produksi yang sudah besar, tentu saja bisa menutup biaya operasional dan profit yang diperoleh juga semakin meningkat.
Namun bagi yang modalnya terbatas, biasanya untuk masuk ke supermarket masih terkendala oleh ketentuan besarnya listing fee. Karena itulah, pemasaran dengan memanfaatkan jaringan yang sudah ada di masyarakat seperti misalnya koperasi bisa dipertimbangkan, dan tentu saja sistemnya tetap masih harus bertumpu pada konsinyasi karena merupakan produk yang masih belum terlalu familiar.
Menurut Ikhsan Setianto, proses masuk ke koperasi agak lebih mudah dan prosedurnya tidak terlalu rumit serta tanpa biaya. Seperti ke beberapa koperasi BUMN maupun swasta. Pemasaran sederhana dengan menitipkan sampling produk ke beberapa toko juga merupakan langkah yang cerdik untuk menyiasati kendala market.

Peluang Untung
Bagi usaha kecil yang baru merintis pengembangan produk, kapasitas produksi yang masih rendah membuat pendapatan juga belum maksimal. Sehingga margin keuntungan juga tidak terlalu besar. Apalagi di awal usaha. Seperti yang dikembangkan oleh Ikhsan Setianto yang memproduksi keripik aneka buah diantaranya keripik salak, nangka, nanas dan apel. Kapasitas produksi yang masih rendah belum sesuai dengan kapasitas mesin, bahkan masih jauh dibawah angka kapasitas produksi mesin.
Sebagai gambaran, kapasitas mesin satu hari bisa menghasilkan 30 kg. Namun Ikhsan optimis kapasitas produksinya akan semakin berkembang meskipun saat ini kapasitas produksi yang dihasilkan per bulan baru mencapai 30 – 40 kg. Memang sangat tidak sebanding dengan kapasitas alat. Tentu saja hal ini banyak faktornya termasuk soal kendala pemasaran yang masih terbatas. Karena itulah margin keuntungannya juga masih kecil. Namun CV. Nur Setia Abadi yang dikelola Ikhsan Setianto ini direncanakan punya konsep ke depan, misalnya pengembangan produk, promosi lewat iklan maupun masuk ke supermarket besar.
Mendekatkan prngolahan produksi dengan sentra bahan baku juga merupakan strategi lain berbisnis keripik buah untuk menjaga efisiensi. Sehingga menekan biaya distribusi. Karena itulah banyak diantara produsen keripik buah menempatkan lokasi usahanya di beberapa sentra produksi buah seperti Malang, Yogyakarta atau Wonosobo.
Produsen keripik yang hanya focus pada pengolahan satu macam jenis baik keripik salak maupun nangka, cukup berpeluang meraih untung. Produsen salak Steve Hikmat menyasar segmen market pengunjung lokasi pariwisata yang banyak terdapat di Yogyakarta. Disamping itu juga menerapkan harga jual yang berbeda pada sistem pembayaran secara konsinyasi atau tunai pada langganannya yang sudah tersebar di beberapa daerah seperti Batam, Bandung maupun Riau. Hingga ia mampu meraup untung 30% atau sebesar Rp 7,2 juta setiap bulannya. Begitu juga pada Soebagyo, salah satu produsen keripik nangka. Meski untungnya belum terlalu besar hanya Rp 2 juta sebulan, namun ia mengakui kedepannya prospek bisnis ini akan bagus.
Meskipun banyak faktor yang mempengaruhi perkembangan keripik buah, sebagai produk konsumsi yang terbilang masih baru di Indonesia, didukung oleh kualitas bahan keripik yang serba alami, tampaknya potensi bisnis ini masih berpeluang besar untuk bisa digarap baik sebagai bisnis sambilan maupun bisnis utama.


CV. Nur Setia Abadi
Keripik Aneka Buah Untungnya 10%

Karena terbilang baru, penerimaan pasar domestik terhadap keripik buah masih minim. Pasalnya selain harga jualnya masih relatif mahal, juga masyarakat masih jarang mengetahui adanya keripik buah. Namun sebagai produsen keripik buah, Ikhsan Setianto, Direktur CV. Nur Setia Abadi (NSA) mengungkapkan, snack buah-buahan ini memiliki potensi besar untuk pasar ekspor. Tentu saja, banyak persyaratan yang harus dipenuhi untuk bisa tembus pasar internasional. Bagaimana peluang bisnis keripik buah ini?

Sejak tahun 2004 Ikhsan Setianto merintis usahanya mengembangkan keripik buah. Saat itu ia tengah mengalami PHK dari sebuah perusahaan di bidang consumer goods. Dari hasil pesangon sebesar Rp 30 juta, ia mulai merintis bisnis keripik buah setelah sebelumnya sempat melihat banyak buah salak yang terbuang percuma di kebun milik keluarga istrinya.
Ikhsan Setianto mengakui sudah banyak buyer dari luar negeri, antara lain Hongkong, Taiwan, Bangladesh dan India yang ingin membeli keripik aneka buah produknya. Diantaranya keripik salak, nangka, nanas & apel. Barangkali ini merupakan potensi bisnis yang menjanjikan. Dari segi bahan baku, jelas buah-buahan sangat melimpah di Indonesia. Bahkan di saat musim panen, harga buah langsung anjlok, karena tidak mampu diserap oleh pasar. Namun seperti kebanyakan UKM, ternyata produk keripik buah milik Ikhsan belum mampu memenuhi kualifikasi permintaan buyer luar negeri. Akhirnya, Ikhsan pun belum mampu menggarap pasar ekspor.
“Pemasaran di internet sebenarnya bagus, dan banyak sekali permintaan ekspor keluar negeri. Tapi persyaratan mereka itu agak sulit terutama dari legalitas, dokumentasi kesehatan dari Depkes, dan sertifikat untuk produk. Kita sudah ada ijin dari Depkes, tapi buyer minta untuk sertifikasi resmi misalnya produk itu benar-benar higienis,” ungkap Ikhsan.
Kendala lainnya, terletak pada pengemasan. Buyer international meminta pengemasan harus sudah rapi, dengan bahan dari alumunium foil lengkap dengan brand dan desainnya, dan beratnya per satu kemasan 50 gram.
Jika permintaan pasar ekspor bisa dipenuhi, menurut Ikhsan buyer pasti akan order dalam jumlah besar. Padahal untuk memenuhi permintaan ini, dibutuhkan modal cukup besar. Sebagai salah satu UKM, CV. NSA sulit untuk memenuhi permintaan ini, dikarenakan kendala klasik, yaitu keterbatasan modal. Asal tahu saja, buyer biasanya akan meminta order dalam jumlah besar. Dan untuk memenuhi 1 kontainer, bisa membutuhkan modal Rp 200 – 300 juta. Tentu saja bagi UKM, menanggung modal sebesar itu cukup berat. “Akhirnya ya sudah saya jalin komunikasi saja sementara. Meski sebenarnya potensinya bagus untuk pasar ke luar negeri,” papar Ikhsan.

Kendala Produk dan Pasar Lokal
Untuk pasokan bahan baku, Ikhsan mengaku tidak mengalami kesulitan. Untuk pasokan buah salak ia dapatkan dari kebun salak milik keluarga istri di Yogyakarta, serta mengambil dari pengepul salak pondoh di Yogyakarta. Sementara untuk pasokan buah nangka, nanas dan apel ia dapatkan dari pengepul buah di Malang. Untuk produksi, Ikhsan dibantu 5 orang karyawan guna memproduksi keripik salak di Yogyakarta dan 5 orang memproduksi keripik nangka, nanas dan apel di Malang. Untuk pengelolaannya, Ikhsan melibatkan saudara, teman dan tetangga sekitar lokasi produksi. Dalam 1 bulan, rata-rata kapasitas produksi keripik buahnya 30 – 40 kg.
Sementara untuk pemasaran di Jakarta ia dibantu oleh sekitar 4 orang karyawan. Jadi total pagawai 14 orang. Distribusinya juga belum jauh, karena pemasaran di Jakarta baru berjalan 1 tahun ini.
Meski tidak kesulitan dalam hal pasokan bahan baku, Ikhsan menjelaskan kendalanya lebih kepada biaya produksi keripik buahnya. Pertama, karena biaya produksinya mahal mengakibatkan harga jualnya menjadi mahal. Harga penjualan keripik buah masih berkisar Rp 7.000 per 50 gram-nya. Ditambah sifat keripik yang cepet melempem (tidak renyah lagi) jika lama berinteraksi dengan udara, serta masyarakat lokal belum banyak yang mengenal keripik buah ini. Untuk membuat keripik buah ini tahan lama, maka harus dikemas dengan alumunium foil yang tahan sampai 1 tahun, namun jika hanya dikemas dalam plastik biasa, keripik hanya bisa tahan selama 6 bulan.
“Bisa dikatakan produk ini belum bisa memasyarakat dengan baik. Sebenarnya ide kita ingin memberikan banyak sampling produk sehingga produk ini bisa berkembang dan semua masyarakat tahu. Kembali kendala ke internalnya. Pemberian sampling biasanya diberikan ke toko, dengan sistem konsinyasi. Bisa dibilang toko tanpa resiko, jadi ditaruh disitu, ditaruh sampelnya dan pengelola toKO dipersilahkan untuk mencoba sampelnya. Tapi itupun biasanya nggak lama, karena karakter produk ini tidak bertahan lama jika terkena udara. Samplingnya paling berkala, kalau ada permintaan baru diberikan,” ungkap Ikhsan.

Pemasaran
Hingga saat ini, Ikhsan mengatakan omzet dari usaha keripik aneka buah produksinya, masih berkisar Rp 4 juta per bulan atau kapasitas 30 kg keripik. Dengan keuntungan bersih menurut pengakuan Ikhsan hanya 10% dari omzet. Sebelum memasarkan ke toko-toko, Ikhsan memasarkan keripik buah melalui koperasi instansi BUMN seperti diantaranya, Koperasi Karyawan Kantor Pertamina Pusat - Jakarta Pusat, Koperasi Karyawan Kantor Departemen Keuangan – Jakarta Pusat, Koperasi Karyawan Kantor AUTO 2000 – Jakarta Utara, Koperasi Karyawan LTO Dirjen Pajak – Jakarta Pusat dan Koperasi Karyawan Kantor Catatan Sipil – Jakarta Barat.
“Rencana ke depan, saya ingin masuk ke supermarket-supermarket besar. UKM kendalanya masih terbentur di masalah dana. Itu klasik. Untuk masuk ke supermarket besar kita harus bayar listing fee, istilahnya uang pendaftaran produk. Jadi setiap produk yang masuk per item biayanya mencapai Rp 2,5 juta,” pungkasnya.


Ikhsan Setianto
Direktur CV. Nur Setia Abadi - Fruit Chips Manufacturer
Fruit Chip, Your Alternate Choice Of Chip
Website : http://indonetwork.co.id/cv_nur_setia_abadi ; http://nur-setia-abadi.blogspot.com/ Email : setiafood@yahoo.com
Marketing Director HALIZA Salon Muslimah – Salon Muslimah Pertama di Jakarta Pusat
Cantik Diri dan Hati
Website : http://www.haliza-salon.com/
Email : cantik@haliza-salon.com
Mailing List : haliza-salon@yahoogroups.com

Friday, April 22, 2005

Produk Pertanian Alternatif

Harian Bisnis Indonesia
Selasa 29 Maret 2005, Hal.T3, Kolom “Peluang Bisnis”
Martin Sihombing
Redaktur Harian Bisnis Indonesia

Produk Olahan Pertanian, Usaha Alternatif

Alam Indonesia memiliki potensi besar untuk dijadikan modal usaha di sektor pertanian. Memang, itu bukan lagi berita besar. Semua orang makfum. Buktinya, Koes Plus pun mampu mengangkat kondisi alam itu kedalam lagu bertajuk Kolam Susu.

Namun, masih belum banyak orang yang mau menjadikan sektor pertanian sebagai lahan untuk berusaha. Kalaupun ada, pola pengelolaannya dilakukan apa adanya. Karena itu, masih banyak orang yang menjadikan pertanian sekadar untuk memenuhi kebutuhan hidup yang apa adanya.
Artinya, tidak banyak orang yang mampu menyulap potensi alam itu menjadi gepokan uang. Padahal, jika hal itu mau dilakukan, bukan sesuatu hal yang mustahil. Di antara yang sedikit itu, mungkin salah satunya Ikhsan Setianto, pria kelahiran 7 Oktober 1973 di Jakarta.
Kendati belum pantas untuk dikatakan sudah sangat menikmati hasil dari memanfaatkan alam Indonesia, Ikhsan mulai mengakui bahwa sektor pertanian mampu memberikan kehidupan yang layak. Dia berhasil menyulap lahan atau perkebunan salak milik mertuanya menjadi mesin uang bagi diri dan sejumlah karyawannya.
Pria jebolan Fakultas Teknologi Pertanian jurusan Teknologi Industri Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) ini mampu memanfaatkan buah salak, nangka, nanas dan apel menjadi produk yang bernilai tambah, bagi dirinya dan bagi komoditas itu sendiri.
Usaha yang dilakukan setelah dirinya menjadi korban pemutusan hubungan kerja alias PHK di satu perusahaan distribusi, awalnya sebagai upaya untuk memberikan dan meningkatkan nilai tambah produk pertanian khususnya buah-buahan. Pasalnya, selama ini buah-buahan umumnya dikonsumsi secara segar.
Tapi, permasalahan yang timbul pada saat panen raya, produksinya melimpah sehingga untuk menghindari kerugian akibat kerusakan, petani menjualnya dengan harga murah. Keadaan ini semakin membebani masyarakat petani yang umumnya masih tergolong kelas menengah ke bawah. Karena itu, untuk mengatasi panen raya, perlu dicari berbagai upaya untuk memperpanjang masa simpan buah.
Pengolahan buah segar menjadi keripik, sirup dan dodol salak pondoh merupakan cara-cara untuk mengatasi panen raya terutama untuk jenis salak pondoh hitam yang bentuk fisiknya tidak terlalu menarik.
Hal itu juga diakui Ikhsan. Menurut dia, kendala yang dihadapi oleh para petani adalah saat terjadinya panen raya dimana produksi buah segar melimpah dan harga produknya menjadi sangat murah.
Begitu melimpahnya produksi saat panen sehingga seringkali buah-buahan tersebut dibiarkan terbengkalai sampai membusuk karena harga jualnya tidak sebanding dengan biaya produksi yang sudah dikeluarkan oleh para petani.
Kasus itu mungkin pernah terungkap belum lama ini dimana buah salak membanjiri pasaran. Tapi harganya anjlok menjadi Rp 2.000/kg seperti yang terjadi di Pasar Karombasan, sementara Pasar Swalayan Jumbo dan Golden masih menjual dengan harga Rp 5.000/kg.
Anjloknya harga buah salak pondoh itu disebabkan oleh adanya panen besar sejak awal tahun. Harga di tingkat petani berkisar Rp 1.500/kg. Kendati masih ada kios-kios yang menjual dengan harga Rp 2.000/kg – Rp 2.500/kg.
Dalam upaya untuk memanfaatkan hasil produksi yang melimpah ini sehingga produk tersebut tidak mubazir (sia-sia) dan dapat dimanfaatkan secara optimal dalam berbagai bentuk diversifikasi produk pertanian, salah satunya adalah dalam bentuk keripik buah.
Dengan bendera CV. Nur Setia Abadi, Ikhsan menggunakan teknologi penggorengan vakum (vacuum frying) untuk membuat produk keripik buah dengan bentuk, rasa, warna dan aroma yang tidak berbeda dengan bentuk, rasa, warna dan aroma asli dari buah segar yang diolah. Produk yang diolah tanpa bahan pengawet dan tanpa zat pewarna ini menghasilkan keripik buah yang renyah, kaya serat, non kolesterol dan mempunyai daya simpan yang jauh lebih lama dibandingkan buah segar aslinya.
“Produk seperti itu masih mempunyai pasar yang baik”, kata Ikhsan. Orang selama ini lebih banyak menikmati dalam bentuk buah segar. Padahal orang Indonesia menyukai yang namanya kegiatan ngemil.
Tapi, karena potensi pasar itu selama ini belum digarap secara maksimal, akibatnya tidak banyak orang yang tahu bahwa di Indonesia pasar snack dengan bahan baku produk buah lokal seperti keripik salak pondoh sangat besar. Akibat lainnya, buah lokal pun tidak memiliki nilai tambah, dan keragaman snack dari buah lokal pun tidak bermunculan kendati potensi pasarnya cukup ada.
Kalaupun banyak, kata Ikhsan, penggarapan yang dilakukan tidak menjadikan produk olahan dari buah lokal memiliki tempat yang layak di tengah konsumen yang semakin keranjingan dengan snack impor. Kemasan yang dilakukan masih dalam bentuk apa adanya.
Sejauh ini upaya yang dilakukan, diakuinya memang belum sampai pada kategori mencengangkan orang. “ Kami baru memulainya empat bulan ini”, ujar dia. Namun, kini dia sudah mampu memiliki dua pabrik pengolahan buah di dua kabupaten, Malang dan Yogyakarta. Tepatnya di Desa Margodadi, Sleman, Yogyakarta untuk pengolahan keripik salak pondoh dan di wilayah Sengkaling Batu, Malang, Jawa Timur untuk pengolahan keripik nangka, nanas dan apel.
Keripik buah merupakan hasil olahan produk buah segar dalam bentuk makanan ringan (chip) yang diolah dengan teknologi penggoreng sistem hampa (vacuum fryer). Pembuatan keripik buah merupakan peluang usaha baru di bidang agroindustri pada skala rumah tangga, karena dapat meningkatkan nilai tambah.
Alat penggoreng hampa berbasis teknologi pompa jet air (water jet pump) mampu menurunkan titik didih minyak penggoreng sehingga di bawah 100 derajat Celcius, sehingga aspek mutu, rasa, aroma dan zat gizi keripik buah hasil penggorengan sistem hampa tidak berbeda nyata dengan buah segarnya namun dengan tekstur yang renyah dan kering. Keripik buah yang dikemas dan disimpan secara benar dan tepat, masa kadaluarsanya bisa mencapai 10 bulan hingga 1 tahun penyimpanan.


SETELAH DI PHK, IKHSAN SUKSES USAHA KERIPIK

Ikhsan Setianto, bos CV. Nur Setia Abadi, tidak pernah membayangkan bahwa pertanian mengantarkan dirinya menjadi salah seorang usahawan skala usaha kecil dan menengah. Pasalnya, jika tidak ada peristiwa pemutusan hubungan kerja alias PHK dari tempatnya bekerja, pria kelahiran 7 Oktober 1973 di Jakarta itu, tetap menjadi karyawan.
Jebolan Fakultas Teknologi Pertanian jurusan Teknologi Industri Pertanian UGM itu, kini mulai merasakan bahwa alam Indonesia yang berpotensi besar untuk modal usaha pertanian, ternyata benar.
Dengan mengolah berbagai produk pertanian seperti salak pondoh, nangka, nanas dan apel yang harganya kerap anjlok saat panen raya, Ikhsan mulai digelari “Raja Keripik”. Pasalnya, dengan latar belakang ilmu yang dipelajari di almamaternya itu, dia mengolah berbagai produk pertanian itu menjadi keripik.
“Yah, tapi kami baru memulainya empat bulan ini. Sekarang masih tahap memperkenalkan”, kata dia yang suami seorang guru SLTA.
Sebelum memulai usahanya dan sesudah kena PHK, Ikhsan mulai dengan melakukan pencarian informasi sekitar peluang usaha apa yang berpotensi besar untuk dijadikan usaha.
“Saya berdialog dengan sejumlah orang serta melakukan perjalanan ke berbagai tempat seperti ke Pasuruan”, ujar dia. Dari hasil pergulatannya dengan situasi yang digumulinya, dia akhirnya mengambil kesimpulan, bahwa memproduksi pangan dari produk pertanian yang diolah masih mempunyai prospek yang lumayan bagus.
“Apalagi, dari produk yang dihasilkan tidak dikemas dengan baik. Padahal jika dikemas dengan baik maka manfaat ekonominya bertambah”, ujar Ikhsan.
Dia pun melakukan pendekatan dengan pihak mertua untuk sekadar meminta ijin memanfaatkan lahan perkebunan salak milik mertuanya yang berada di Yogyakarta. Dengan memanfaatkan sisa uang pesangon yang mencapai Rp 30 juta, Ikhsan memulai usahanya.
“Kami memulainya dengan memproduksi kedalam kemasan kecil sekitar 50gram”, ungkap dia. Kemudian dia melakukan penawaran kerjasama ke berbagai outlet seperti tempat-tempat yang memang menjual oleh-oleh. “Kini permintaan mulai banyak, bahkan dari Lampung permintaan sudah mulai berdatangan”, tutur Ikhsan.
Dari usaha yang dimulai sejak akhir tahun lalu itu, kini dia sudah memiliki dua pabrik pengolahan kendati masih tergolong skala kecil. Satu di Desa Margodadi, Sleman, Yogyakarta dan di wilayah Sengkaling Batu, Malang, Jawa Timur. Sedangkan pengemasan produk perusahaan, yang didirikan dalam upaya untuk mengembangkan produk olahan dari buah segar sehingga dapat memberikan nilai tambah akan produk itu sendiri, dilakukan di Jakarta.
“Saya mempekerjakan 14 orang karyawan untuk memproduksi keripik itu”, ujar dia. Namun dia menolak mengatakan omzetnya saat ini. “Tapi usaha ini mempunyai prospek, sebab ini tergolong usaha baru yang punya pasar bagus tapi selama ini belum dikelola dengan baik”, tutur dia.
Kendati belum pantas untuk dikatakan sudah sangat menikmati hasil memanfaatkan alam Indonesia, Ikhsan mulai mengakui, sektor pertanian mampu memnberikan kehidupan yang menjanjikan. Pasalnya, dia bukan hanya berhasil menyulap lahan atau perkebunan salak milik mertuanya untuk mesin uang bagi dirinya tapi juga bagi sejumlah karyawannya.
Usaha yang menjadi sandaran hidupnya setelah dirinya menjadi korban pemutusan hubungan kerja alias PHK dan awalnya hanya akan dijadikan sebagai upaya memberikan dan meningkatkan nilai tambah produk pertanian khususnya buah-buahan, kini mulai menarik minat konsumennya. “Saya ingin menguasai pulau Jawa dulu, Mas. Belum berpikir untuk ke luar apalagi ekspor”.
Namun dia mengakui, upaya untuk membesarkan usahanya ini bukan hal yang ringan. Apalagi kini produk dari industri skala kecil seperti yang digelutinya ini belum begitu disenangi perbankan.

Jakarta, 21 April 2005
Ikhsan Setianto
Direktur CV. Nur Setia Abadi - Fruit Chips Manufacturer

“Fruit Chip, Your Alternate Choice Of Chip”

Saturday, April 02, 2005

Short Trace Back - Personal Profile

CURRICULUM VITAE

Nama : Ikhsan Setianto
Alamat : Komplek DKI Sunter Jaya I, Blok J/27 RT 013 RW 03, Tanjung Priok, Jakarta
Utara, 14350
Telepon : 021-6505891 ; 0813-14508844
Email : ichangasin@yahoo.com ; setiafood@yahoo.com
Lahir : Jakarta, 7 Oktober 1973
Agama : Islam
Status : Menikah


PENDIDIKAN FORMAL

1. 1992 – 1999 : Universitas Gadjah Mada – Yogyakarta, Fakultas Teknologi Pertanian,
Jurusan Teknologi Industri Pertanian, IPK 2.97 / 4.00
2. 1989 – 1992 : SMUN 41, Jakarta Pusat
3. 1986 – 1989 : SMPN 78, Jakarta Pusat
4. 1980 – 1986 : SDN Kebon Kosong, Jakarta Pusat


PENGALAMAN KERJA

November 2004 - Sekarang : CV. Nur Setia Abadi (Produsen Aneka Keripik Buah)
Direktur

April 2003 – November 2004 : PT. Wicaksana Overseas International Tbk. (Distributor
Nasional)
Procurement & Planning Executive – Logistic Dept.
· Deskripsi tugas:
o Menangani aktivitas procurement & planning untuk principal
o Mengontrol distribusi produk ke seluruh cabang/area
o Memonitor inventory level produk di seluruh cabang/area
· Principal yang ditangani:
o PT. Mead Johnson Indonesia (Susu Bubuk Instan)
o PT. Effem Indonesia (Makanan Hewan)
o PT. Simex Indonesia (Minuman Energi)
o PT. Synergy Marketing Indonesia (Garam)
o PT. Sariguna Primatirta (Air Mineral)
o PT. Naga Corigo Kencana (Pembersih)
o PT. Forinco Ancol (Sikat Gigi)
o PT. Nusa Palapa Gemilang (Obat Nyamuk Bakar)

April 2001 – April 2003 : PT. Wicaksana Overseas International Tbk. (Distributor Nasional)
Business Manager – Commercial Dept.
· Deskripsi tugas:
o Menangani bisnis principal di PT. WOI selaku distributor baik dalam skala nasional maupun
lokal
o Melakukan koordinasi dengan principal dalam segala hal untuk memajukan, meningkatkan
serta mengembangkan bisnis yang ada untuk produk yang didistribusikan oleh PT. WOI
o Mengembangkan aktivitas dan strategi marketing bersama-sama dengan principal untuk
mendistribusikan produk ke pasar
o Menangani aktivitas ordering & planning kepada principal
o Mengontrol distribusi produk ke seluruh cabang/area
o Memonitor inventory level produk di seluruh cabang/area
· Principal yang ditangani sebelumnya:
o PT. Effem Indonesia (Makanan Hewan)
Skala bisnis (jaringan distribusi) : Nasional
o PT. Tirta Investama/Aqua Golden Mississippi (Air Mineral)
Skala bisnis (jaringan distribusi) : Jabotabek, Jabar & Sumut
o PT Mead Jonhson Indonesia (Susu Bubuk Instan)
Skala bisnis (jaringan distribusi) : Jabar, Jatim & Sumatera
o Quaker Oats Asia Inc. (Sereal)
Skala bisnis (jaringan distribusi) : Nasional

Oktober 1999 – April 2001 : PT. Wicaksana Overseas International Tbk. (Distributor Nasional)
Export Supervisor – International Div. / Trading Dept.
· Deskripsi tugas:
o Menangani aktivitas ekspor untuk produk PT. WOI dan grup perusahaan kepada customer
regular di luar negeri
o Mengembangkan bisnis ekspor untuk produk-produk bermerek internasional maupun
produk-produk local juga produk grup perusahaan sendiri
o Mencari Customer baru di luar negeri untuk mengembangkan total bisnis PT. WOI
· Principal ditangani sebelumnya:
o PT. Jakarana Tama (Mi Instan)
o PT. Forinco Ancol (Sikat Gigi)
o PT. Pelinda Sarana Sukses (Peralatan Tulis)

Juni – Oktober 1999 : PT. Wicaksana Overseas International Tbk. (Distributor Nasional)
Management Trainee – International Div. / Trading Dept.
· Deskripsi tugas:
o Menangani aktivitas ekspor untuk produk PT. WOI dan grup perusahaan kepada customer
regular di luar negeri
o Mengembangkan bisnis ekspor untuk produk-produk bermerek internasional maupun
produk-produk local juga produk grup perusahaan sendiri
o Mencari Customer baru di luar negeri untuk mengembangkan total bisnis PT. WOI
· Principal ditangani sebelumnya:
o PT. Jakarana Tama (Mi Instan)
o PT. Forinco Ancol (Sikat Gigi)
o PT. Pelinda Sarana Sukses (Peralatan Tulis)

Saturday, March 26, 2005

Menuju Sukses Berwirausaha

Menuju Sukses Berwirausaha

Kompas Rabu, 23 Maret 2005, Rumah Pengetahuan, hal.36

Mendorong Lulusan Perguruan Tinggi Berwirausaha

Umumnya lulusan Perguruan Tinggi (PT) lebih dipersiapkan menjadi pencari kerja daripada pencipta lapangan kerja. Padahal Indonesia adalah Negara dengan angka pengangguran yang sangat tinggi. Tahun ini saja diramalkan terdapat 45 juta pengangguran berusia produktif. Pengangguran sebesar ini disebabkan oleh rendahnya pertumbuhan ekonomi setelah krisis sehingga tenaga kerja banyak yang tidak terserap. Selain itu, pemutusan hubungan kerja (PHK) yang dipicu krisis ekonomi juga mengakibatkan jumlah pengangguran meningkat.
Minat para lulusan PT untuk berwirausaha masih rendah. Padahal dengan berwirausaha pemulihan ekonomi akan dapat dipercepat. Singapura misalnya, merupakan negara yang maju karena kewirausahaan. Hal ini karena pemerintahnya telah sejak lama mendorong para lulusan PT-nya untuk menjadi wira usahawan yang kreatif dan tangguh karena sadar akan terbatasnya sumber daya alam. Dengan begitu mereka terpacu untuk berkreasi dan berinovasi menghasilkan produk dan jasa yang berkualitas
.

Di Indonesia, walaupun gerakan kewirausahaan sudah digerakkan sejak sekitar tahun 1995, namun di era otonomi inilah momentum yang tepat untuk menumbuhkan kewirausahaan di daerah.
Banyak faktor yang menyebabkan para lulusan PT tidak terjun berwirausaha. Sebut saja kendala tidak memiliki modal, lahan, jaringan dan ketrampilan. Persoalan pola pikir bahwa menjadi sarjana adalah untuk mencari kerja bukan pencipta lapangan kerja juga ikut menghambat semangan wirausaha. Selain itu, usaha pemerintah juga tidak sungguh-sungguh mendorong sarjana agar berwirausaha, disamping juga memberikan dukungan permodalan, atau jejaring dunia usaha. Kurikulum kewirausahaan di PT juga belum menjadi mata kuliah wajib, walaupun telah banyak institusi pendidikan yang tidak memiliki visi dan misi yang mendengung-dengungkan jiwa kewirausahaan.
Mendorong minat berwirausaha dapat dilakukan dengan bekerjasama dengan PT maupun lembaga pelatihan kewirausahaan. Misalnya dengan menyusun kurikulum pelatihan wirausaha dan membuat proyek percobaan usaha yang dapat dikembangkan menjadi produk yang dapat bernilai ekonomis. Perlu juga menggandeng organisasi-organisasi usaha, seperti KADIN, serta mendorong Pemda untuk menyederhanakan perizinan di bisnis di daerah. Untuk mengatasi kendala permodalan, Pemda dapat mengalokasikan dana bagi pertumbuhan kewirausahaan, mendesain suatu rencana permodalan khusus bagai wirausahawan yang bekerjasama dengan bank atau investor.
Dengan dukungan penuh dari pemerintah maka wirausaha dapat berkembang sehingga perekonomian negara pun dapat bangkit kembali dalam waktu singkat.

Menuju Sukses Berwirausaha

1. Jangan melihat peluang usaha sebagai peluang sesaat. Jika peluang itu dipelihara dengan manajemen yang baik, pasti akan dapat langgeng, bahkan mungkin menjadi bisnis raksasa.
2. Ciptakan terobosan produk, layanan, jasa atau ide secara terus menerus.
3. Yakinlah akan produk yang ditawarkan, selain mencintai bisnis yang sedang dijalankan untuk meyakinkan pelanggan.
4. Antusiasme dan keuletan adalah kunci keberhasilan sebuah usaha.
5. Berani mengambil resiko yang diperhitungkan. Sebuah resiko yang diperhitungkan berpeluang membuahkan kesuksesan.
6. Pada fase awal usaha, kepiawaian menjual merupakan kunci sukses. Namun jangan lupa juga untuk mengembangkan hubungan dengan pelanggan.
7. Tumbuhkan etos kerja keras.
8. Bertemanlah sebanyak banyaknya karena teman dapat membantu mengembangkan usaha, memberi nasihat dan mungkin menolong pada masa-masa sulit.

Jakarta, 26 Maret 2005
Ikhsan Setianto
Direktur CV. Nur Setia Abadi - Fruit Chips Manufacturer

Tuesday, March 22, 2005

Kesalehan, Pencuri, dan Polisi

Kesalehan, Pencuri, dan Polisi

Kompas Minggu, 20 Maret 2005, Kolom Asal-Usul, hal.16
Mohamad Sobary

Pada suatu malam di suatu daerah di dalam Kota Makassar ada pencurian. Sejenak suasana menjadi heboh. Kehebohan memuncak semakin jelas dan agak melegakan ketika ketahuan kemana di pencuri melarikan diri.
Massa pun mengejar si pencuri, dan entah bagaimana permulaannya, polisi ikut pula mengejar dengan gigih. Abdi hukum ini tangkas dan pencuri ibaratnya hanya tinggal dijambak dari jarak kurang sedepa di belakangnya.
Tiba-tiba di pencuri terantuk dan terjatuh. Otomatis dia mengaduh. Dan dimana-mana, tiap orang mengaduh dalam bahasa ibunya, yang dikenal akrab sejak kecil, seolah cara mengaduh sudah menjadi bagian dari hidupnya. Begitu juga si pencuri. Ia berteriak spontan :
“Aduh biyung…” (aduh mak…).
“Husy, kowe Jowo yo?” (kau Jawa ya?) jawab abdi hukum itu spontan pula. Pak Polisi mengerti keluhan si pencuri karena ia juga orang Jawa.
“Nggih pak pulisi” (ya pak polisi) jawab si pencuri.
“Kono, mlayu…, mlayu…” (sana, lari…, lari…), perintah pak polisi. Tanpa menunggu perintah itu diulang, si pencuri kabur dalam kegelapan malam, dalam kegelapan hukum, dalam kegelapan sejarah Kota Makassar.
Ini, tentu saja, kalau cerita ini benar. Kalau tidak, artinya hanya humor yang dibuat entah oleh siapa, tentu saja kita menerimanya dengan enak, tanpa beban-beban, tanpa prasangka. Bapak polisi pun akan menerimanya dengan ringan pula karena kalau hal ini tidak pernah terjadi, maka dengan sendirinyalah tak ada pihak yang bermaksud menyindir, atau menyudutkan pak polisi dan lembaga kepolisian.
Humor memang tak pernah berhenti pada humor itu sendiri. Tapi ia bukan fakta hukum, bukan fakta politik. Karena itu, ia tak harus dianggap mencemarkan siapa pun.
Apa gunanya kita menyudutkan orang lain, apalagi lembaga penting, yang notabene sangat kita butuhkan setiap hari, demi keamanan dan ketertiban kita? Apa enaknya kita menuduh? Bukankah tuduhan sangat mudah berbalik dan dengan mudah pula mencekik leher si penuduh sendiri?
Di mana-mana di luar kota Makassar, sejak dulu hingga kini, ada pencurian. Zaman sekarang jika pencuri tertangkap, massa mengamuk di luar batas kemanusiaan. Pencuri, yang mencuri hanya barang sepele, bisa di hakimi massa, dan tak jarang di bakar hidup-hidup. Kita ngeri melihat potret diri kita menjadi sebengis ini.
Tapi ada keanehan yang sulit dijelaskan : kenapa pencuri tidak pernah jera, meskipun resikonya luar biasa besar dan taruhannya, sekali lagi, dibakar?
Ini pencuri tingkat kampung, pencuri kecil-kecilan buat menyambung hidup, sekedar agar tak mati kelaparan.
Mencuri buat menyambung hidup bukan tanda kebobrokan moral, melainkan tanda kepepet secara ekonomi. Boleh jadi si pencuri melakukan tindakan pencurian itu dengan hati tersayat-sayat. Ia tidak ingin melumuri jiwanya dengan kezaliman.
Boleh jadi tiap habis mencuri ia berdoa kepada tuhan agar perekonomian keluarganya membaik, dan berjanji tak akan mencuri lagi. Ia berniat mengubah total cara hidupnya. Dengan begini, jelas pada dirinya ada pertobatan dan niat untuk hijrah dari kegelapan ke cahaya terang.
Bagaimana para pencuri besar, yang mencuri buat kekayaan, atau buat menghimpun pengaruh politik sehingga ia bisa menduduki suatu jabatan tinggi, dan disana ia mencuri lagi buat warisan anak cucu selain buat meraih jabatan lebih tinggi? Bagaimana pencuri yang mencuri, dan merampok uang negara, dan mengeringkan kas kantor karena aliran uang dibelokkan ke rumahnya?
Pada tingkatan ini, pencuri berhitung menggunakan rumus eksakta dan juga rumus-rumus agama. Semua segi dikalkulasikan, bahkan di uji coba secara sangat cermat dengan hitungan jeli dan “njelimet” dan atas dasar hitungan itu pencuri akan selalu selamat.
Uang hasil curian itu dibagi kesana kemari dan semua pihak kebagian. Ada pihak-pihak yang dibikin sangat kaya mendadak, dan terpesona, dan tak akan berani berkutik sehingga orang itu akan melindunginya.
Si pencuri dengan begitu bukan hanya mencuri uang tapi juga mencuri jiwa orang lain agar mereka ikut bergabung melindungi kebejatan jiwanya. Sebuah kebejatan akan selalu melahirkan dan beranak-pinak dengan corak kebejatan lain. Masyarakat kita pun penuh kebejatan.
“Ia tidak takut dengan Tuhan?”
“Takut. Tapi Tuhan pun – setidaknya menurut perasaannya – sudah pula disogoknya”
“Tuhan? Disogok? Dengan cara apa Tuhan disogok?”
“Sekali lagi, menurut perasaannya yang sudah gelap dan membatu, dia mengira Tuhan bisa disogok”
“Apa yang dilakukannya?”
“Ia menjadi dermawan, yang dengan murah membiayai pembangunan demi pembangunan rumah Tuhan. Dan rumah Tuhan yang reyot pun dibangun dengan uang curian itu.”
Ketika rumah Tuhan jadi, ia duduk di pojok yang nyaman, dan berdoa disana tiap habis shalat jamaah, tiap habis pertemuan, tiap habis ceramah agama, dan orang lain berkesimpulan dia orang saleh dan dermawan.
Orang-orang menjadikannya idola. Diam-diam mereka berharap bisa mengikuti jejaknya.
Hal ini membuatnya mabuk. Dia lalu percaya kepada kebohongannya sendiri, dan lama-lama ia terpesona menyadari betapa ia bisa menipu secanggih itu hingga dirinya sendiri pun tak sadar telah tertipu oleh tipuannya sendiri. Masya Allah.
Orang lain belum tentu sepuluh tahun sekali ke tanah suci, tapi dia bisa tiap saat ke sana. Pusing sedikit ke tanah suci. Dan ia berkata dengan anggun dan saleh bahwa kita akan semakin dekat kepada Tuhan dan kedekatan kita itu akan penuh berkah bila kita rajin “sowan” ke tanah suci.
Orang-orang pun makin takjub mendengar kata-katanya. Luar biasa. Jarang orang bisa mencapai tahap kesalehan setingkat ini. Dalam seribu barangkali hanya ada satu.
Pada suatu pagi orang saleh ini diringkus polisi. Kedoknya terbuka. Kita tahu, kesalehan tak bisa jadi satu dengan kezaliman. Sepandai-pandai orang membungkus, yang busuk berbau juga. Kebenaran tak bisa disatukan dengan kebatilan. Kesalehan itu satu hal. Pencuri itu hal lain. Dan polisi lain lagi.

Jakarta, 21 Maret 2005
Ikhsan Setianto
Direktur CV. Nur Setia Abadi - Fruit Chips Manufacturer

Monday, February 28, 2005

Strategi Distribusi sebagai Sustainable Competitive Advantage

Strategi Distribusi sebagai Sustainable Competitive Advantage
Rabu, 22 Januari 2003
(Date: Sat, 26 Feb 2005 16:36:41 -0000 From: "stamara_17" <SRaharja@talisman-energy.com> To: KLP_Dua@yahoogroups.com)
Suatu ketika seseorang pernah bertanya pada Warren Buffet, CEO-nya Berkshire Hathaway dan salah seorang investor yang paling disegani di dunia, hal terpenting apakah yang ia cari ketika sedang mengevaluasi sebuah perusahaan untuk diinvestasikan. Tanpa ragu-ragu, Buffet menjawab, ''Sustainable competitive advantage.''
Mengapa investor sekaliber Warren Buffet mencari sustainable competitive advantage atau keunggulan kompetitif yang berkelanjutan? Apakah keunggulan kompetitif yang berkelanjutan itu dan apa hebatnya?
Keunggulan kompetitif yang berkelanjutan adalah keunggulan yang tidak mudah ditiru, yang membuat suatu perusahaan dapat merebut dan mempertahankan posisinya sebagai pimpinan pasar. Karena sifatnya yang tidak mudah ditiru, keunggulan bersaing yang berkelanjutan dapat mendukung kesuksesan suatu perusahaan untuk jangka waktu yang lama.
Di masa lalu hal-hal seperti teknologi produksi yang superior atau merek yang kuat dipandang sebagai keunggulan yang tidak mudah untuk ditiru oleh para pesaing. Tetapi, pernahkan terpikir bahwa pada jaman sekarang persaingan price (harga), promotion (promosi), product (produk), dan proses produksinya sudah menjadi hal yang lumrah?
Keunggulan operasional yang terlihat pada harga yang murah atau kualitas barang yang bagus pada masa sekarang sudah tidak lagi cukup untuk memenangkan persaingan bisnis. Karena, pesaing kita tentunya akan berusaha menyusul dengan harga yang lebih murah atau produk yang lebih baik. Apalagi dengan adanya AFTA Indonesia akan kebanjiran produk-produk murah dari Cina dan India.
Branding advantage (keunggulan merek) pun kini makin sulit untuk tercapai karena semua media promosi telah menjadi ajang perang memperebutkan customer mindshare. Dengan begitu banyaknya merek yang berseliweran di benak para pembeli, perang promosi pun telah menjadi perang yang teramat mahal.
Untuk menjadi top brand, sekarang perusahaan-perusahaan mau tidak mau mesti mengeluarkan biaya puluhan bahkan ratusan miliar rupiah per tahun. Biaya investasi terlalu tinggi untuk kebanyakan perusahaan Indonesia. Sedangkan promosi yang lebih taktikal seperti sales promo atau diskon hanya akan memberikan keunggulan sementara yang tidak akan bertahan lama.
Di tengah persaingan bisnis yang semakin menghangat, banyak pemasar yang melupakan pentingnya place strategy, atau yang juga kita kenal dengan strategi distribusi, dalam mencapai keunggulan bisnis. Dalam buku The Channel Advantage Larry Friedman menulis bahwa dengan makin pendeknya beda waktu antara suatu produk inovatif keluar dan tiruannya menyusul, strategi produk tidak lagi dapat diandalkan. Apalagi, seperti kita ketahui semua, di Indonesia perlindungan hak cipta masih sangat kurang pelaksanaannya.
Pada keadaan seperti ini Larry Friedman menyatakan bahwa ''Its not what you sell, its how you sell it'' atau ''Bukan apa yang kita jual, tapi bagaimana kita menjualnya.'' Inilah inti dari strategi distribusi.
Keunggulan bisnis dapat tercapai dengan strategi distribusi yang inovatif dan efektif. Saya syaratkan strategi ini mesti inovatif karena bila tidak, strategi tadi hanyalah tiruan strategi pesaing yang tidak akan memberikan keunggulan.
Sedangkan strategi ini mesti efektif karena bila tidak, ia akan menjadi kendala dan bukan keunggulan. Di Indonesia sendiri, Kimia Farma merupakan contoh perusahaan yang tidak melupakan strategi distribusinya. Di antara perusahaan-perusahaan farmasi yang berlomba-lomba memperebutkan shelf-share atau pangsa display di apotik, toko obat, dan toko kelontong melalui insentif, promosi saluran pemasaran, iklan below the line dan above the line, Kimia Farma berani beda.
Sejak tahun 2001 Kimia Farma sukses mengembangkan saluran pemasaran yang langsung menghubungkannya ke konsumen, yaitu Apotik Kimia Farma. Dengan modal apotik miliknya itu, dalam perebutan mind-share, heart-share, dan market-share pengguna obat, Kimia Farma selangkah lebih maju dari kompetitornya.
Kalau perusahaan farmasi lain hanya mengandalkan kualitas produk dan efisiensi produksi, maka Kimia Farma juga mengembangkan customer intimacy strategy (strategi kedekatan dengan pembeli). Hebat bukan?
Apalagi kalau kita mengingat bahwa strategi ''apotik sebagai keunggulan kompetitif'' ini sifatnya berkelanjutan karena tidak mudah ditiru dan bukan merupakan beban usaha karena menghasilkan keuntungan operasional lumayan. Kita lihat apakah langkah berani Kimia Farma ini akan diikuti perusahaan lain.
Jakarta, 28 Februari 2005
Ikhsan Setianto
Direktur CV. Nur Setia Abadi - Fruit Chips Manufacturer

Monday, February 21, 2005

SPP Gratis dan Gaji Guru Naik, Siapa Bilang Tidak Bisa!

SPP Gratis dan Gaji Guru Naik, Siapa Bilang Tidak Bisa!

Kompas Senin, 21 Februari 2005 hal.45
Abdorrakhman Gintings
Dosen Pascsarjana Universitas HAMKA, Jakarta


Sudah terlalu sering kita membicarakan biaya pendidikan gratis tanpa ada kesimpulan strategic-applicative. Selama ini, yang ada justru lagi-lagi bermuara pada kesimpulan “pendidikan itu mahal dan tidak mungkin digratiskan”, sehingga strategi yang paling tepat adalah melalui “subsidi silang”.

Menurut penulis, itu “kuno”! Mengapa? Karena semua itu dibangun atas paradigma lama, yaitu pendidikan adalah beban, tidak menempatkan pendidikan sebagai future investment sebagaimana yang disampaikan oleh para peserta kampanye pemilu: mulai kontestan legeslatif daerah dan pusat, bahkan sampai calon presiden dan wakil presiden pun. Begitu juga dengan meningkatkan gaji guru!
Kelihatannya bangsa ini masih lebih tertarik untuk berinvestasi di sektor lain yang juga masih bersifat hipotetik! Misalnya baru-baru ini direncanakan dialokasikan dana sebesar Rp 300 triliun selama lima tahun kedepan untuk pembangunan infrastruktur yang secara hipotetik mampu mendongkrak sektor ekonomi dan industri, serta investasi.
Pertanyaannya, siapakah yang akan memperoleh keuntungannya, apakah para pengusaha nasional, pengusaha asing, atau juga memberi kesempatan kepada wong cilik yang justru berniat mengubah dirinya dari beban menjadi asset dan seperti dikatakan pakar ekonomi pemenang Nobel dari Amerika, bahwa sebanyak-banyak manfaat dari eksploitasi seluruh kekayaan negeri ini harus diberikan kepada rakyat kecil, melalui “shift of paradigm”.

Berapa Dana?

Dengan menggunakan teknik “berhitung kalimat” yang saya pelajari ketika saya masih di sekolah dasar (SD), 43 tahun yang lalu, sebenarnya angka-angka yang di hasilkan dari perhitungan berdasarkan sejumlah asumsi tidaklah terlalu menakutkan.
Asumsikan bahwa siswa SD saat ini berjumlah 24 juta orang, baik di SD negeri, swasta maupun di madrasah ibtidaiyah (MI) yang notabene mereka bagian dari Program Wajib Belajar 9 Tahun, tidak termasuk sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP). Apabila pemerintah berniat membebaskan sumbangan pembinaan pendidikan (SPP) tanpa pandang bulu, apakah dari keluarga mampu atau tidak mampu, dan besarnya SPP adalah rata-rata Rp 15.000, maka besarnya dana tambahan yang diperlukan saat ini untuk membebaskan SPP bagi seluruh anak bangsa yang sekolah di SD adalah : 12 bulan x 24.000.000 siswa x Rp 15.000 = Rp 4,32 triliun per tahun. Dengan catatan, pemerintah tidak mengurangi dana yang selama ini telah dialokasikan untuk kegiatan lain dalam program Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas).
Kemudian diasumsikan jumlah guru negeri dan swasta di SD dan MI sebanyak 2,2 juta orang. Jika kita ingin meningkatkan tunjangan profesi sebagai stimulant peningkatan kualitas pendidikan kepada guru sebesar Rp 500.000 / guru / bulan – tanpa pandang bulu apakah guru negeri, swasta maupun MI – diperlukan dana tambahan sebesar 2,2 juta guru x Rp 500.000 x 12 bulan = Rp 13,2 triliun per tahun.
Jika diharapkan bahwa pembebanan SPP dan pemberian tunjangan pendidikan berdampak secara signifikan terhadap pemerataan kesempatan dan peningkatan kualitas pendidikan dasar, maka secara total hanya diperlukan dana tambahan sebesar Rp 17,32 triliun per tahun untuk tujuan tersebut.
Bandingkan angka ini dengan investasi total sebesar Rp 300 triliun selama lima tahun, atau Rp 60 triliun per tahun untuk pembenahan infrastruktur yang baru-baru ini diwacanakan. Besarnya dana tambahan pendidikan hanya sebesar 30 persen dari investasi infrastruktur per tahun. Kedua investasi tersebut, infrastruktur dan sumber daya manusia (SDM), seharusnya maju bersama karena keduanya bersifat komplementer, disamping keduanya sama-sama bersifat hipotetik. Bagaimanapun, pembangunan infrastruktur yang tidak diimbangi dengan pembangunan SDM yang memadai akan menjadikan pengusaha asing menikmati infrastruktur sekaligus kaki tangan seperti jaman penjajah.
Mari kita bandingkan pula dengan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk sektor pendidikan. Untuk tahun 2004 besarnya dana pendidikan dalam APBN adalah sekitar 24 triliun per tahun di luar bantuan luar negeri. Artinya, bahwa suntikan dana yang diperlukan untuk pembebasan SPP dan pemberian tunjangan profesi guru hanya sekitar 70 persen dari total anggaran pendidikan.

Darimana Sumbernya?

Dalam jangka pendek, ada dua sumber utama untuk menggali dana tambahan tersebut, yakni efisiensi dan realokasi. Dari segi efisiensi, dana tersebut dapat diperoleh dengan meningkatkan efisiensi lewat penekanan kebocoran.
Moh. Hatta – sang Dwitunggal Proklamator Kemerdekaan negeri ini – pernah mengestimasi bahwa tingkat kebocoran dana di republic ini adalah berkisar 30 persen. Beranjak dari estimasi ini, jika pemerintah mampu menekan kebocoran, maka hampir separuh dari dana kebutuhan tersebut sudah dapat terpenuhi. Bayangkan jika penekanan kebocoran tersebut dilakukan di semua departemen, maka jumlah Rp 17,32 triliun per tahun bagi pembebasan SPP dan pemberian tunjangan profesi guru tidak seberapa. Jadi, sebaiknya tidak perlu dilakukan perubahan struktur yang justru akan meningkatkan inefisiensi karena secara empiric struktur itu memberikan peluang terjadinya kebocoran uang negara!
Undang-undang mengisyaratkan bahwa dana pendidikan minimal 20 persen dari APBN dan 25 persen dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD). Besarnya dana APBN tahun 2004 adalah sebesar Rp 340 triliun dan direncanakan naik sebesar Rp 50 triliun atau menjadi Rp 390 triliun untuk tahun 2005. Membandingkan dengan angka-angka APBN ini, maka dana tambahan yang diperlukan untuk mendongkrak kualitas pendidikan dasar hanya 31 persen dari kenaikan APBN 2005, sementara investasi di bidang infrastruktur menyedot 120 persen dari kenaikan APBN tersebut.
Silahkan bandingkan sendiri dengan besarnya kenaikan tersebut dengan angka total APBN tersebut! Tetapi, dengan perubahan paradigma dalam memandang pendidikan dari beban menjadi investasi bangsa ke depan, maka realokasi dana dari sektor lain ke sektor pendidikan demi peningkatan daya saing bangsa adalah sesuatu yang tidak perlu diperdebatkan.

Beberapa Manfaat

Banyak kalangan, baik khalayak umum, praktisi, maupun para pakar telah mengajukan tentang manfaat yang diperoleh dari kenaikan dana tambahan pendidikan sehingga tidak perlu dikupas lagi terlalu jauh dalam tulisan ini.
Hanya ada satu yang ingin disampaikan yang mungkin atau jarang diungkap, yaitu mengenai pendidikan yang bernuansakan “kerakyatan” dipadukan dengan pandangan pendidikan sebagai “human capital”. Ambil analogi yang dilakukan oleh negara-negara maju seperti Amerika, Jepang dan Singapura. Bangsa tersebut menyadari bahwa orang pintar tidak hanya berasal dari keluarga dan atau negeri kaya! Artinya, rakyat miskin sekalipun mempunyai potensi untuk menjadi orang pintar dan produktif serta menjadi aset bangsa yang dapat mengangkat ekonomi nasional.
Oleh sebab itu, untuk menciptakan keunggulan kompetitif nasional, Amerika Serikat memburu para genius dari seluruh penjuru dunia tidak memandang dari mana mereka berasal. Para genius tersebut selanjutnya dimanfaatkan untuk menciptakan berbagai inovasi yang diperlukan untuk membangun keunggulan teknostruktur, misalnya.
Begitu juga dengan Jepang yang telah memberikan program beasiswa bagi para sarjana dari berbagai negara untuk melakukan penelitian di negaranya. Perhitungan kalkulator bisnis mereka mengasumsikan bahwa sekalipun tidak sedikit jumlah dana beasiswa yang dikeluarkan, tetapi program ini – penelitian para sarjana mendapat beasiswa di negara jepang – akan berkontribusi terhadap perkembangan industri dan perekonomian negaranya.
Tidak dapat disangkal lagi bahwa dengan peningkatan kualitas pendidikan dengan berbagai komponen di dalamnya, kita dapat menuju menjadi bangsa yang unggul dalam percaturan internasional. Kita harus menggunakan pola pikir orang Batak, yang tidak sayang menjual semua sawah dan tanahnya untuk menyekolahkan anaknya, karena yakin dengan sekolah tersebut akan mampu mengembalikan modal kembali, bahkan melebihi modal yang dikeluarkan – pola pikir ini sejalan dengan teori ekonomi pendidikan yang dikemukakan oleh para ahli di negara-negara maju! Masalahnya, mampukan para pembuat kebijakan di negeri ini yang dari segi ekonomi sangat mampu menyekolahkan anaknya ke mana pun dengan biaya berapa pun, berpikir dan merasakan serta berpihak kepada kepentingan rakyat kecil, setidaknya dalam hal pendidikan anak bangsa sebagai implementasi makna puasa bagi yang muslim.
Kalau pola pikir ini diadopsi dan menjadi pemikiran kolektif bangsa Indonesia dan bermuara kepada sikap pemerintah RI dan memandang rakyat adalah anak pemerintah, maka berapa pun besarnya dana tambahan yang diperlukan untuk sektor pendidikan yang berkualitas dan pemerataan hak rakyat atas pendidikan, tidak akan menjadi permasalahan yang berkelanjutan tanpa ujung.
Bagaimana dengan kebutuhan lainnya? Sebagian pembaca mungkin akan mempertanyakan, bagaimana dengan dana untuk kebutuhan lain di luar SPP dan tunjangan profesional guru? Seorang penulis pernah melakukan hitungan dana total penyelenggaraan pendidikan dasar yang bisa membuat semua kita, terutama pemerintah, mempunyai alasan yang kuat untuk menunda-nunda pembebasan SPP dan peningkatan gaji guru.
Tetapi, mari kita lihat penyelenggaraan pendidikan di sekolah swasta berkualitas menengah. Sekolah-sekolah tersebut memungut iuran sekolah sekitar Rp150.000 / siswa / bulan, di luar uang pembangunan, ketika mendaftar menjadi siswa di sekolah tersebut. Ternyata sekolah tersebut mampu mendongkrak kualitas pendidikan tanpa mengharapkan subsidi dari pemerintah.
Sekolah negeri sendiri sebenarnya kalau dikalkulasikan dengan cermat – termasuk gaji guru dan sebagainya – melebihi dari biaya yang dipungut oleh sekolah-sekolah swasta tersebut. Mengapa? Yang membedakan sekolah negeri dan sekolah swasta dalam konteks hubungan antara biaya dengan kualitas adalah produktivitas penggunaan dana dalam arti efektif, efisien dan relevan karena telah berjalannya manajemen berbasis sekolah dalam arti yang sebenarnya. Setelah mencermati perhitungan tersebut, maka perubahan struktur justru paradoks dengan upaya efisiensi dan akan mengurangi kesempatan bagi teralokasinya dana tambahan sebagaimana dimaksud.
Dengan dibentuknya sebuah direktorat jenderal baru di lingkungan Depdiknas, berarti akan menambah tidak kurang dari delapan puluh jabatan struktural eselon I sampai dengan IV, yang sudah menjadi rahasia umum merupakan simpul-simpul kebocoran dan inefisiensi. Alasan mempersempit span of control juga bertolak belakang karena penambahan struktur justru memperbanyak subordinate yang harus dikendalikan.
Jadi, buat apa mengutak-utik struktur yang juga masih hipotetis manfaatnyaa sementara akar masalah, yaitu ketenangan siswa belajar melalui pembebasan SPP siswa dan peningkatan profesionalisme guru melalui pemberian tunjangan profesi yang selalu dinomorsekiankan, bahkan tidak pernah terealisasikan. Akhirnya semua tergantung pada siapa yang menggunakan kalkulator educational policy di negeri tercinta ini! So the heart must be there!

Jakarta, 21 Februari 2005
Ikhsan Setianto
Direktur CV. Nur Setia Abadi - Fruit Chips Manufacturer

Kisah Ustadz di Kampung Maling

Kisah Ustadz di Kampung Maling

Kompas Senin, 21 Februari 2005 hal.4
Effendi Gazali
Staf Pengajar Pascasarjana Komunikasi UI, Research Associate di Radboud, Nijmegen University


Jaksa Agung dalam rapat di Gedung DPR, kamis (17/2), tidak menerima disebut sebagai “ustadz di kampung maling”. Sementara, Menteri Keuangan Jusuf Anwar saat menanggapi hasil survey Transparency International Indonesia bahwa Ditjen Pajak dan Ditjen Bea Cukai sebagai lembaga terkorup ternyata “ketularan” ungkapan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan mengatakan, “I don’t care…” (The Jakarta Post, 18/2).

Artikel ini bermaksud membandingkan kedua pernyataan itu dengan analisis “Tajuk Rencana” Kompas (19/2), yang antara lain menyatakan zaman ini menuntut ungkapan-ungkapan yang lebih terang dan jelas, namun tetap bercita rasa tinggi. “Tajuk Rencana” itu lebih lanjut mengingatkan kembali sinyalemen dari penelitian Forum Konferensi Linguistik Atma Jaya bahwa bahasa media massa kini cenderung vulgar, dan hal itu merupakan refleksi perubahan pola komunikasi dalam masyarakat Indonesia yang mengarah ke konteks budaya rendah.
Dalam rapat kerja gabungan bersama komisi II dan III DPR, Jaksa Agung merasa benar-benar terusik dengan pernyataan anggota DPR Anhar yang mengiaskan dirinya sebagai “ustadz di kampung maling”. Anhar, begitu juga beberapa pimpinan juga anggota DPR yang membelanya sampai hari ini, menganggap pernyataan itu sebagai “kiasan”, sedangkan Jaksa Agung mengatakan itu sebagai “tuduhan”.
Saya menduga akan terdapat 3 interpretasi terhadap peristiwa ini. Kelompok khalayak pertama barangkali mengatakan, “Enak saja anggota DPR menuduh orang lain ‘maling’, memangnya mereka itu bersih?”
Kelompok kedua barangkali mengatakan, “Kenapa Abdul Rahman Saleh seperti mati-matian membela korpsnya? Apakah dia sudah yakin bahwa ‘kampung’nya sekarang benar-benar bersih?”
Kelompok ketiga cenderung mengatakan kedua belah pihak keliru. Anhar menggunakan kiasan yang terlalu kasar, sedangkan Jaksa Agung terlampau reaktif!
Dari konteks komunikasi politik yang penting tentu strategi tanggapan balik dengan bahasa yang strategik, elegan dan cantik. Untuk itu, pertama-tama kita harus menganalisis apa yang ingin dicapai Jaksa Agung dengan reaksinya itu.
Apakah dia ingin betul-betul menekankan penegakan etika di lembaga legeslatif atau sungguh-sungguh ingin mengajarkan penghormatan terhadap azas praduga tak bersalah? Atau, dia sedang berusaha membangun perasaan kohesif di Kejaksaan Agung dengan menyatakan bahwa harga diri korps mereka terusik karena kiasan tersebut.
Perlu kita catat bahwa sampai saat ini berbagai pihak masih sering membuat pembedaan antara pribadi Abdul Rahman Saleh yang dinilai berintegritas baik dan lembaganya, Kejaksaan Agung, yang sebagaimana lembaga penegak hukum dan keadilan lain di Indonesia bereputasi menyedihkan. Dalam konteks ini, penyebutan dirinya sebagai “ustadz” dapat dibaca sebagai upaya pembedaan yang sangat jelas dengan orang-orang (profesi) lain di “kampung maling”.
Kenapa jaksa agung marah, apakah profesi “ustadz” pun sudah mengalami devaluasi nilai begitu parah di Indonesia dewasa ini sehingga ia tidak lagi bernilai positif, atau sampai tak berbeda dengan “penjahat”? Kalau saya di posisi Jaksa Agung, daripada balik menggugat kiasan tersebut dengan nada tinggi, kenapa tidak “mendayung biduk” itu sehingga “sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui”?
Ambil contoh, Abdul Rahman Saleh bisa mengatakan, “Saya mungkin tidak cocok dikiaskan dengan ‘ustadz’ (katakanlah ia tidak nyaman disebut seperti itu). Tapi kalau lingkungan kami sudah sampai disamakan dengan “kampung maling” sudah pasti hal itu tidak bisa dibereskan hanya oleh seorang ustadz, namun tugas kita semua untuk membersihkannya. Agar lebih jelas dan tidak sumir, kalau bapak Anhar punya data, silahkan langsung menyampaikannya kapan saja dan saya dukung penuh untuk segera membawanya ke pengadilan”.
Untuk mendapat dukungan dari publik yang menonton di layar kaca dan wartawan yang meliput raker tersebut, sekaligus sedikit memukul balik (jika dirasa perlu), Jaksa Agung dapat menambahkan, “Di sini hadir teman-teman wartawan, publik juga menonton lewat televisi, karena itu saya mint dukungan DPR, dukungan wartawan, dukungan publik dan dukungan kolega saya yang merasa tidak tinggal di ‘kampung maling’ untuk segera bangkit bersama membersihkan DPR….(memancing tawa), eh maaf maksud saya, Kejaksaan Agung, atau semuanyalah. Pokoknya saya yakin pak Anhar setuju, DPR juga perlu dibersihkan, begitu juga semua institusi publik di Indonesia ini! Kita juga perlu pak Anhar menjadi ustadz di DPR, di lingkungan rumahnya, dan di berbagai lingkungan lain!”
Tentu banyak gaya joke politik lain, yang mungkin saja lebih cocok dengan gaya Abdul Rahman Saleh sehingga barangkali bisa lebih sukses kalau diterapkan (pemakaian joke politik yang elegan juga diusulkan oleh “Tajuk Rencana” Kompas tersebut).
Pendek kata, dengan begitu, banyak tujuan bisa tercapai. Kawan satu korps masih bisa diajak kompak, tetapi juga diperingatkan (bahwa sekarang bukan masanya main-main lagi); lawan merasa dirangkul namun juga diingatkan untuk tidak lupa soal kisah atau kebiasaan “maling teriak maling”.
Soal Menteri Keuangan Jusuf Anwar yang ikut “ketularan” mengatakan I don’t care telah menjadi bukti bagi SBY bahwa ucapan seorang presiden gampang menular pada pejabat lain. Pada masa pemerintahan mantan Presiden Soeharto, bukan cuma substansinya mengikuti apa kata Pak Harto saja, bahkan juga gayanya yang biasa melafalkan “kan” menjadi “ken” dan “semakin” menjadi “semangkin” latah ditiru para pejabat lain.
Tentu sebelum menganalisis, kita perlu mencoba mendengarkan pertimbangan menteri keuangan. Ternyata alasannnya pun kurang lebih sama dengan alasan SBY. Jusuf Anwar lebih kurang mengatakan, baginya jauh lebih penting bekerja keras daripada sekedar membuat headlines (maksudnya mungkin sekedar mencari sensasi berita). Ia juga berpendapat, publik saja yang seakan tidak ingin atau tidak sungguh-sungguh merasakan apa yang pemerintah lakukan, padahal pada kenyataannya banyak hal telah menjadi lebih baik.
Jusuf Anwar lupa bahwa dalam komunikasi politik, posisi pejabat publik seperti menteri keuangan, sampai kapanpun, diharuskan menegakkan citra (di mata publik) sebagai orang yang paling supersensitif terhadap semua kasus korupsi yang membangkrutkan keuangan negara! Karena itu, dengan alasan apapun, ia tidak akan pernah boleh mengatakan I don’t care terhadap laporan yang menceritakan di departemennya masih terdapat “kampung maling”.
Justru dalam suasana seperti itu, lagi-lagi masih tetap dibutuhkan sedikitnya seorang “ustadz” yang berkredibilitas tinggi dan tetap mau berteriak serta bekerja sama dengan publik dan dengan segenap media guna membereskan persoalan di “kampung maling” manapun, apalagi kalau kampung itu diindikasikan ada di sekitarnya. Bukankah lebih baik pula untuk mengatakan sesuatu yang baik, walaupun cuma satu ayat, daripada sekedar latah ketularan I don’t care.

Jakarta, 21 Februari 2005
Ikhsan Setianto
Direktur CV. Nur Setia Abadi - Fruit Chips Manufacturer