Potensi Bisnis Keripik Buah Pasarnya Masih Terbuka Lebar
No.12 / Thn I / 06 – 19 Februari 2006
Sektor Agribisnis, Hal. 16 – 18
By Malik, Ekawati, Mutiara Dwi R.
Potensi Bisnis Keripik Buah Pasarnya Masih Terbuka Lebar
* Setelah Diubah Menjadi Keripik, Harganya Menjadi Fantastis
Indonesia memang kaya akan keanekaragaman hayati, termasuk buah-buahan. Lihatlah salak pondoh, salak bali, apel malang, dan masih banyak wilayah di pelosok Indonesia yang memiliki potensi sumber daya alam buah-buahan. Alangkah sayang, jika potensinya kemudian tidak tergarap. Apalagi pada waktu panen raya, petani kebingungan menjual hasil kebunnya karena harga jual buah anjlok, bahkan busuk di pohon karena tidak bisa terjual. Namun kini, selain bisa dijual dalam bentuk buah segar, dengan sedikit inovasi didukung oleh peralatan mesin yang cukup canggih, buah-buahan juga bisa diolah menjadi keripik yang cukup lezat dan nilai jualnya meningkat. Lalu seberapa besar peluang usaha ini?
Sebagai snack alternatif yang cukup sehat dan bergizi, produk ini juga cukup diminati di pasar ekspor karena merupakan produk pangan yang tidak mengandung bahan-bahan kimia. Baik kualitas, rasa dan aromanya hampir rata-rata sama dengan buah segarnya. Peningkatan harga jual produk olahan buah segar menjadi keripik juga cukup fantastis. Misalnya salak pondoh yang harganya hanya Rp 3.000 per kg, bila telah diolah menjadi keripik harganya bisa meningkat menjadi Rp 80.000 per kg. Begitu juga hal yang sama terjadi pada beberapa jenis buah lainnya seperti nangka segar yang harganya Rp 1.500 per kg, bila telah menjadi keripik bisa mencapai Rp 50.000 per kg.
Eksklusivitas produk berbahan dasar buah mengundang potensi untuk digali dan dikembangkan karena rata-rata keripik buah belum familiar bagi masyarakat sehingga bisa mengundang daya tarik orang untuk mencoba menikmati kelezatannya.
Potensi dari pasar ekspor juga ditunjukkan oleh tingginya respon para buyer di luar negeri seperti diakui Ikhsan Setianto, produsen keripik buah dari CV. Nur Setia Abadi yang pernah mendapat tawaran order banyak buyer di luar negeri. Namun ia mengalami kendala dari sisi persyaratan produk, termasuk kendala klasik modal yang terbatas untuk memenuhi order dari buyer yang biasanya memang dalam jumlah besar.
Menyikapi Kendala Usaha
Dalam pemasaran produk keripik buah, terutama dari sisi harganya yang terbilang cukup mahal bagi ukuran masyarakat kelas menengah ke bawah, menjadi semacam tantangan bagi produsen keripik buah untuk bisa lebih menekan biaya operasional terutama misalnya lewat penciptaan mesin penggorengan yang lebih murah namum kualitasnya tetap terjaga. Saat ini harga mesin penggorengan termurah di pasaran antara Rp 15 juta – Rp 30 juta-an.
Selain itu, karena belum familiar, maka pemasarannya juga terkendala. Bahkan perusahaan besar yang sudah mengembangkan produk keripik buah berskala industri pun tak mampu berbuat banyak dalam mempromosikan produk ini ke masyarakat luas.
Biaya produksi yang tinggi, dan alat produksi yang cukup mahal, pada akhirnya berpengaruh pula ke harga jual. Apalagi operasionalnya menggunakan bahan bakar gas dan listrik sehingga harga jual ke konsumen cukup tinggi. Bisa dipastikan kalangan market menengah ke bawah, belum tentu menjadi target market yang tepat bagi pemasaran keripik buah. Tetapi bisa jadi produk ini memang lebih tepat mengarah ke market menengah ke atas.
Karena itulah menembus pasar ke beberapa supermarket bisa jadi merupakan impian bagi beberapa produsen keripik buah. Seperti halnya yang telah dilakukan oleh pelaku usaha yang sudah mengelola usahanya berskala industri. Produk pelaku usaha berskala industri sudah merambah ke beberapa supermarket maupun airport. Dengan kapasitas produksi yang sudah besar, tentu saja bisa menutup biaya operasional dan profit yang diperoleh juga semakin meningkat.
Namun bagi yang modalnya terbatas, biasanya untuk masuk ke supermarket masih terkendala oleh ketentuan besarnya listing fee. Karena itulah, pemasaran dengan memanfaatkan jaringan yang sudah ada di masyarakat seperti misalnya koperasi bisa dipertimbangkan, dan tentu saja sistemnya tetap masih harus bertumpu pada konsinyasi karena merupakan produk yang masih belum terlalu familiar.
Menurut Ikhsan Setianto, proses masuk ke koperasi agak lebih mudah dan prosedurnya tidak terlalu rumit serta tanpa biaya. Seperti ke beberapa koperasi BUMN maupun swasta. Pemasaran sederhana dengan menitipkan sampling produk ke beberapa toko juga merupakan langkah yang cerdik untuk menyiasati kendala market.
Peluang Untung
Bagi usaha kecil yang baru merintis pengembangan produk, kapasitas produksi yang masih rendah membuat pendapatan juga belum maksimal. Sehingga margin keuntungan juga tidak terlalu besar. Apalagi di awal usaha. Seperti yang dikembangkan oleh Ikhsan Setianto yang memproduksi keripik aneka buah diantaranya keripik salak, nangka, nanas dan apel. Kapasitas produksi yang masih rendah belum sesuai dengan kapasitas mesin, bahkan masih jauh dibawah angka kapasitas produksi mesin.
Sebagai gambaran, kapasitas mesin satu hari bisa menghasilkan 30 kg. Namun Ikhsan optimis kapasitas produksinya akan semakin berkembang meskipun saat ini kapasitas produksi yang dihasilkan per bulan baru mencapai 30 – 40 kg. Memang sangat tidak sebanding dengan kapasitas alat. Tentu saja hal ini banyak faktornya termasuk soal kendala pemasaran yang masih terbatas. Karena itulah margin keuntungannya juga masih kecil. Namun CV. Nur Setia Abadi yang dikelola Ikhsan Setianto ini direncanakan punya konsep ke depan, misalnya pengembangan produk, promosi lewat iklan maupun masuk ke supermarket besar.
Mendekatkan prngolahan produksi dengan sentra bahan baku juga merupakan strategi lain berbisnis keripik buah untuk menjaga efisiensi. Sehingga menekan biaya distribusi. Karena itulah banyak diantara produsen keripik buah menempatkan lokasi usahanya di beberapa sentra produksi buah seperti Malang, Yogyakarta atau Wonosobo.
Produsen keripik yang hanya focus pada pengolahan satu macam jenis baik keripik salak maupun nangka, cukup berpeluang meraih untung. Produsen salak Steve Hikmat menyasar segmen market pengunjung lokasi pariwisata yang banyak terdapat di Yogyakarta. Disamping itu juga menerapkan harga jual yang berbeda pada sistem pembayaran secara konsinyasi atau tunai pada langganannya yang sudah tersebar di beberapa daerah seperti Batam, Bandung maupun Riau. Hingga ia mampu meraup untung 30% atau sebesar Rp 7,2 juta setiap bulannya. Begitu juga pada Soebagyo, salah satu produsen keripik nangka. Meski untungnya belum terlalu besar hanya Rp 2 juta sebulan, namun ia mengakui kedepannya prospek bisnis ini akan bagus.
Meskipun banyak faktor yang mempengaruhi perkembangan keripik buah, sebagai produk konsumsi yang terbilang masih baru di Indonesia, didukung oleh kualitas bahan keripik yang serba alami, tampaknya potensi bisnis ini masih berpeluang besar untuk bisa digarap baik sebagai bisnis sambilan maupun bisnis utama.
CV. Nur Setia Abadi
Keripik Aneka Buah Untungnya 10%
Karena terbilang baru, penerimaan pasar domestik terhadap keripik buah masih minim. Pasalnya selain harga jualnya masih relatif mahal, juga masyarakat masih jarang mengetahui adanya keripik buah. Namun sebagai produsen keripik buah, Ikhsan Setianto, Direktur CV. Nur Setia Abadi (NSA) mengungkapkan, snack buah-buahan ini memiliki potensi besar untuk pasar ekspor. Tentu saja, banyak persyaratan yang harus dipenuhi untuk bisa tembus pasar internasional. Bagaimana peluang bisnis keripik buah ini?
Sejak tahun 2004 Ikhsan Setianto merintis usahanya mengembangkan keripik buah. Saat itu ia tengah mengalami PHK dari sebuah perusahaan di bidang consumer goods. Dari hasil pesangon sebesar Rp 30 juta, ia mulai merintis bisnis keripik buah setelah sebelumnya sempat melihat banyak buah salak yang terbuang percuma di kebun milik keluarga istrinya.
Ikhsan Setianto mengakui sudah banyak buyer dari luar negeri, antara lain Hongkong, Taiwan, Bangladesh dan India yang ingin membeli keripik aneka buah produknya. Diantaranya keripik salak, nangka, nanas & apel. Barangkali ini merupakan potensi bisnis yang menjanjikan. Dari segi bahan baku, jelas buah-buahan sangat melimpah di Indonesia. Bahkan di saat musim panen, harga buah langsung anjlok, karena tidak mampu diserap oleh pasar. Namun seperti kebanyakan UKM, ternyata produk keripik buah milik Ikhsan belum mampu memenuhi kualifikasi permintaan buyer luar negeri. Akhirnya, Ikhsan pun belum mampu menggarap pasar ekspor.
“Pemasaran di internet sebenarnya bagus, dan banyak sekali permintaan ekspor keluar negeri. Tapi persyaratan mereka itu agak sulit terutama dari legalitas, dokumentasi kesehatan dari Depkes, dan sertifikat untuk produk. Kita sudah ada ijin dari Depkes, tapi buyer minta untuk sertifikasi resmi misalnya produk itu benar-benar higienis,” ungkap Ikhsan.
Kendala lainnya, terletak pada pengemasan. Buyer international meminta pengemasan harus sudah rapi, dengan bahan dari alumunium foil lengkap dengan brand dan desainnya, dan beratnya per satu kemasan 50 gram.
Jika permintaan pasar ekspor bisa dipenuhi, menurut Ikhsan buyer pasti akan order dalam jumlah besar. Padahal untuk memenuhi permintaan ini, dibutuhkan modal cukup besar. Sebagai salah satu UKM, CV. NSA sulit untuk memenuhi permintaan ini, dikarenakan kendala klasik, yaitu keterbatasan modal. Asal tahu saja, buyer biasanya akan meminta order dalam jumlah besar. Dan untuk memenuhi 1 kontainer, bisa membutuhkan modal Rp 200 – 300 juta. Tentu saja bagi UKM, menanggung modal sebesar itu cukup berat. “Akhirnya ya sudah saya jalin komunikasi saja sementara. Meski sebenarnya potensinya bagus untuk pasar ke luar negeri,” papar Ikhsan.
Kendala Produk dan Pasar Lokal
Untuk pasokan bahan baku, Ikhsan mengaku tidak mengalami kesulitan. Untuk pasokan buah salak ia dapatkan dari kebun salak milik keluarga istri di Yogyakarta, serta mengambil dari pengepul salak pondoh di Yogyakarta. Sementara untuk pasokan buah nangka, nanas dan apel ia dapatkan dari pengepul buah di Malang. Untuk produksi, Ikhsan dibantu 5 orang karyawan guna memproduksi keripik salak di Yogyakarta dan 5 orang memproduksi keripik nangka, nanas dan apel di Malang. Untuk pengelolaannya, Ikhsan melibatkan saudara, teman dan tetangga sekitar lokasi produksi. Dalam 1 bulan, rata-rata kapasitas produksi keripik buahnya 30 – 40 kg.
Sementara untuk pemasaran di Jakarta ia dibantu oleh sekitar 4 orang karyawan. Jadi total pagawai 14 orang. Distribusinya juga belum jauh, karena pemasaran di Jakarta baru berjalan 1 tahun ini.
Meski tidak kesulitan dalam hal pasokan bahan baku, Ikhsan menjelaskan kendalanya lebih kepada biaya produksi keripik buahnya. Pertama, karena biaya produksinya mahal mengakibatkan harga jualnya menjadi mahal. Harga penjualan keripik buah masih berkisar Rp 7.000 per 50 gram-nya. Ditambah sifat keripik yang cepet melempem (tidak renyah lagi) jika lama berinteraksi dengan udara, serta masyarakat lokal belum banyak yang mengenal keripik buah ini. Untuk membuat keripik buah ini tahan lama, maka harus dikemas dengan alumunium foil yang tahan sampai 1 tahun, namun jika hanya dikemas dalam plastik biasa, keripik hanya bisa tahan selama 6 bulan.
“Bisa dikatakan produk ini belum bisa memasyarakat dengan baik. Sebenarnya ide kita ingin memberikan banyak sampling produk sehingga produk ini bisa berkembang dan semua masyarakat tahu. Kembali kendala ke internalnya. Pemberian sampling biasanya diberikan ke toko, dengan sistem konsinyasi. Bisa dibilang toko tanpa resiko, jadi ditaruh disitu, ditaruh sampelnya dan pengelola toKO dipersilahkan untuk mencoba sampelnya. Tapi itupun biasanya nggak lama, karena karakter produk ini tidak bertahan lama jika terkena udara. Samplingnya paling berkala, kalau ada permintaan baru diberikan,” ungkap Ikhsan.
Pemasaran
Hingga saat ini, Ikhsan mengatakan omzet dari usaha keripik aneka buah produksinya, masih berkisar Rp 4 juta per bulan atau kapasitas 30 kg keripik. Dengan keuntungan bersih menurut pengakuan Ikhsan hanya 10% dari omzet. Sebelum memasarkan ke toko-toko, Ikhsan memasarkan keripik buah melalui koperasi instansi BUMN seperti diantaranya, Koperasi Karyawan Kantor Pertamina Pusat - Jakarta Pusat, Koperasi Karyawan Kantor Departemen Keuangan – Jakarta Pusat, Koperasi Karyawan Kantor AUTO 2000 – Jakarta Utara, Koperasi Karyawan LTO Dirjen Pajak – Jakarta Pusat dan Koperasi Karyawan Kantor Catatan Sipil – Jakarta Barat.
“Rencana ke depan, saya ingin masuk ke supermarket-supermarket besar. UKM kendalanya masih terbentur di masalah dana. Itu klasik. Untuk masuk ke supermarket besar kita harus bayar listing fee, istilahnya uang pendaftaran produk. Jadi setiap produk yang masuk per item biayanya mencapai Rp 2,5 juta,” pungkasnya.
Ikhsan Setianto
Direktur CV. Nur Setia Abadi - Fruit Chips Manufacturer
Fruit Chip, Your Alternate Choice Of Chip
Website : http://indonetwork.co.id/cv_nur_setia_abadi ; http://nur-setia-abadi.blogspot.com/ Email : setiafood@yahoo.com
Marketing Director HALIZA Salon Muslimah – Salon Muslimah Pertama di Jakarta Pusat
Cantik Diri dan Hati
Website : http://www.haliza-salon.com/
Email : cantik@haliza-salon.com
Mailing List : haliza-salon@yahoogroups.com
